eng
competition

Text Practice Mode

Prkatek Mengetik Teks Panjang

created Today, 07:48 by BhumiBhayangkaraMaharddhikaJnani


0


Rating

1051 words
2 completed
00:00
Saya cukup kesulitan mencari teks yang panjang untuk latihan mengetik di dalam daftar text di web 10fingerfast.com ini. Ada beberapa yang panjang dengan total hingga lebih dari 500 kata dan ada pula yang sampai 700 kata lebih. Namun hal itu hanya beberapa saja. Bila saya ingin kembali untuk mengetik saya harus mencari jumlah kata yang minimal tidak kurang dari 500 kata agar kebiasaan dan ketahanan saya dalam mengetik terus meningkat. Hal yang tidak kalah penting adalah agar refleks otot jari dan memori tentang tata letak huruf tombol semakin lancar dan akurat. Dengan alasan tersebut saya membuat teks ini sendir, sebab bila didapati total kata yang saya inginkan, maka saya hanya menemukan teks yang sama untuk di ketik kembali. Dilain hal saya membaca teks dari apa yang saya ketik, adalah tentang curhatan, cerita pendek, hingga berita yang disalin kembali. Maka dari itu saya membuat teks pengetikan sendiri, selain sebagai latihan, juga karean tidak menemukan variasi yang berbeda pada teks di atas 500 kata. Dengan begini saya bebas mengetik bahkan hingga 1000 kata untuk menjadi latihan. Di lain hal, mengetik dengan cara membuat teks sendiri, tidak akan terasa panjang dan lama, namun ketika melihat laporan penghitungan kata dan karakter di pojok keri bawah jendela writer, ternyata telah mencapai 1000 kata. Saya pikir ini akan menjadi menyenangkan untuk tingkat lanjut latihan pengetikan. Dibarengi dengan kebiasaan mengetik ulang dari membaca berita mapun naskah apapun, kemudian membuatnya sendiri menjadi teks yang berbeda, atau bahkan murni menuliskan ide dan keresahan dalam kepala. Selain mengukur kemampuan kecepatan dan ketepatan, ini juga dapat meningkatkan konsentrasi dan pemilihan kata dari perbendaharaan kata yang didapat dalam seringnya membaca. Di lain hal, aktivitas demikianlah yang membuat mengetik tidak terasa mencapai 1000 kata atau bahkan hingga berlembar-lembar.
Belajar mengetik merupakan kegiatan yang menuntut kesabaran dan konsistensi dari seseorang. Tanpa dua hal tersebut maka mengetik 10 jari mustahil akan dikuasai. Padahal kemampuan mengetik dengan cepat tergolong sebagai hal urgensi bagi seseorang di masa saat ini. Kemampuan mengetik dengan 10 jari akan meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan efisiensi waktu. Selain itu kemampuan ini juga dapat mendukung produktifitas seseorang, baik dalam dunia pendidikan maupun kerja.
Semisal dalam dunia pendidikan, bagi seorang mahasiswa kemampuan mengetik harus dikuasai dengan baik. Bukan sekedar dapat mengetik semata dengan menggunakan dua jari telunjuk yang seringkali didapati. Pentingnya mampu mengetik dengan 10 jari bagi mahasiswa akan berpengaruh terhadap efisiensi dirinya dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Baik itu dalam bentuk kegiatan organisasi maupun tugas pokok kuliah.
Sayangnya, kemampuan ini mulai pudar pada mahasiswa masa kini. Hanya segelintir dari mereka yang mampu mengetik secara ideal, dan selebihnya memiliki kemampuan mengetik 11 jari (dua jari telunjuk). Melihat hal tersbut, muncul dugaan bahwa maraknya plagiasi yang terjadi dalam dunia pendidikan tinggi terjadi karena kemampuan mengetik sangat minim. Sehingga, hal tersebut menimbulkan pemikiran praktis untuk copy-paste. Bahkan untuk sekedar parafrase, yaitu menulis ulang suatu kalimat dengan kata yang berbeda namun dengan maksud yang sama, para mahasiswa merasa kesulitan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa kemampuan mengetik menjadi hal yang perlu diperhatikan?. Alasannya jelas dan mudah, dengan memiliki skill mengetik yang ideal, seseorang dapat menulis dengan cepat tanpa harus mengandalkan copy-paste. Mungkin poin ini tidak kuat, namun seseorang yang memiliki kemampuan mengetik dengan ideal terbiasa mengetik dan membaca. Hal ini lah yang secara signifikan dapat berpengaruh. Dengan kebiasaan mengetik dan membaca, perbendaharaan kata dalam benaknya semakin kaya dan semakin mudah untuk merangkai suatu kalimat yang berbeda dengan maksud yang sama serta mudah dipahami pembaca.
Standarisasi kemampuan mengetik seyogyanya menjadi hal yang harus dipenuhi sebelum seseorang memasuki tingkat pendiidkan tinggi. Perihal kecil ini nyatanya tidak terjadi dan cenderung diremehkan, bahkan tidak terbesit sediktpun. Semisal, tes ujian masuk kampus bukan hanya sekedar tes kemampuan akademiknya semata, namun tes mengetik yang dapat menentukan apakah ia layak untuk memasuki dunia akademisi yang erat dengan etika anti plagiasi. Tes mengetik bagi calon mahasiswa diberikan strandar minimal kecepatan 40 karakter per menit (KPM/WPM). Mengapa standar ini penting, dengan kecepatan tersebut setidaknya seseorang dapat mengetik dengan kecepatan rata-rata dan memiliki kemungkinan besar ketahanan terhadap kegiatan mengetik yang menjadi hal umum pada pelbagai kegiatan pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa.
Dengan begitu minimnya kemampuan mengetik mahasiswa pada era saat ini, tidak heran plagiasi marak terjadi. Dengan kemampuan mengetik yang terstandar, setidaknya memudahkan bagi para pengajar/dosen untuk menuntun ke arah anti plagiasi. Semisal, pada semester satu hingga maksimal tiga, tugas dari mahasiswa adalah merangkum perkuliahan, sumber pembelajaran, hingga mengomentari fenomena dengan landasan sumber ilmiah yang kuat. Kegiatan ini justru dapat merangsang kemampuan menulis dan penelitian bagi mahasiswa untuk dikembangkan pada semester berikutnya, hingga tugas akhir yang menjadi tujuannya. Lebih baik dari sekedat memberikan tugas makalah yang akan berorientasi pada plagiasi, copy-paste, dari sumber internet yang telah begitu banyak.
Keprihatinan akan plagiasi ini menjadi hal serius yang harus diperhatikan dunia akademisi di Indonesia. Tidak sedikit dari mahasiswa yang lulus pada strata satu mengetahui apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka teliti. Bahkan hal ini berlanjut hingga tingkat Master (S2). Sering ditemukan tesis dengan kualitas skripsi, bahkan pada tinggkat dibawahnya, skripsi, hanya sekedar makalah semata yang ditambahi embel-embel penelitian. Pada hari ini justru merambah ketingkat yang belum seharusnya dilakukan, yaitu menulis jurnal ilmiah. Apa yang terjadi kemudian?, ketersinambungan kebiasaan plagiasi dan asal selesai, membuat semakin banyak jurnal ilmiah yang tidak dapat menjadi sandaran penelitian dan keberlanjutan peneleitan tersebut.
Pada dunia di luar kampus, hal demikian akan menjadikan gap yang jauh lebih lebar antara kebutuhan kajian pada masyarakat dan apa yang diteliti di kampus. Tidak heran, banyak yang menyeatakan bahwa, apa yang anda pelajari di kampus akan sangat berbeda ketika terjun langsung di masyarakat dan dunia kerja. Terjadinya hal ini karena tidak ada sinkronisasi antara penelitian akademik dengan problem lapangan yang sebenarnya, terlebih hasil penelitian tidak bisa diteruskan karena kelemahan dalam penyusunannya. Membuat setiap mahasiswa yang akan menuju tugas akhir mencari judul penelitian, ketika buntu karena di kejar waktu maka seadaanya di internet di ambil dan di ubah tempat penelitiannya tanpa mencantumkan bahwa yang ia susun merupakan keberlanjutan dari penelitian sebelumnya.
Penalaran hingga tahap itu belum sampai kepada mahasiswa masa kini, terlebih bila melihat pada akar utamanya adalah mereka tidak memiliki kemampuan mengetik yang secara rata-rata ideal. Kebiasaan praktis dan plagiasi yang telah dibangun mulai dari menginjakkan kakinya di kampus membuahkan hasil karya plagiat pada akhir studinya. Dalam hal ini juga kita merenung, bahwa tugas pembelajaran bukan sekedar pada kuantitasnya, tapi pada kualitas tujuan dari belajar tersebut. Bukanlah pembelajaran bila telah keluar dari ruh utamanya.

saving score / loading statistics ...